Jumat, 14 Oktober 2011

AKU PASTI BISA!


Sepasang mata bening itu menatapku tajam, seolah-olah ingin tahu semua hal yang aku jelaskan. Wajah lugunya mengisyaratkan bahwa dia adalah seorang anak yang masih harus banyak menimba ilmu, belajar dan belajar. Walaupun waktu hampir menjelang magrib, tak sedikitpun raut kelelahan tampak dari wajah manisnya setelah seharian bekerja di pasar membantu orang tuanya. Indah, sebuah nama yang indah, adalah seorang bocah berusia 7 tahun dan belajar di Home Schooling ASAH PENA pada sore hari. Waktu pagi hari yang seharusnya digunakan untuk belajar di sekolah formal berganti dengan bekerja membantu orang tuanya berjualan ataupun membantu mengangkatkan barang para penjual dan pembeli di pasar sehingga mendapatkan upah seadanya untuk membantu menopang hidup keluarganya.

Pertama kali aku melihatnya, miris sekali melihat kondisi Indah yang kurus, berbaju kaos dan celana pendek apa adanya disertai wangi-wangian yang berasal dari pasar. Tapi hal itu tidak menjadi rintangan bagiku untuk membagikan ilmuku kepada orang yang membutuhkan. Akupun bertanya padanya, “ Indah tidak sekolah di SD negeri ya, nak?” Dia pun menggeleng seraya berucap, “ Tidak, bu. “ Mengapa, nak? Kan sekolah gratis,“ tanyaku lagi. Dengan malu- malu dia menjawab,” Kata mama, tidak ada uang untuk membeli baju seragam dan buku pelajaran. “ Indahpun menunjukkan senyuman yang paling manis di hadapanku, sambil melanjutkan tugas yang aku berikan padanya. Indah…Indah… di tengah himpitan hidup, kamu masih bisa tersenyum manis dan tetap semangat meniti masa depan yang menurutku terasa terjal. Jawaban yang dia berikan, betul-betul mencerminkan sebuah pertanyaan, “Inikah yang dinamakan sekolah gratis?” Walaupun jawaban itu tidak secara spontan keluar dari mulutnya yang mungil, tapi aku tahu, jika nanti menjelang dewasa, Indah pasti akan mempertanyakan hal itu.

Sebenarnya, Indah tergolong anak yang cerdas. Setiap aku selesai menjelaskan satu materi tertentu, Indah pasti bisa melakukannya dengan sempurna, sama sempurnanya dengan jawaban anak-anak yang diberi makanan bergizi dan belajar di sekolah formal. Bersama teman-teman yang senasib dengannya, Indah begitu rajin dan tekun melakukan aktifitas pembelajaran. Matanya berbinar-binar tatkala selesai melakukan tugas yang aku perintahkan, dan mengumpulkannya sambil berlari menuju kearahku. “ Bu, aku sudah selesai.” Aku memeriksa semua pekerjaan Indah. “ Bagus, Indah, tidak ada yang salah, Indah memang hebat, jawabku sambil menunjukkan dua jempol kepadanya. “ Indah pun melompat-lompat tanda kegirangan. “ Tapi kegirangan itu tidak berlangsung lama karena Indah menanyakan tugas berikutnya. “ Belajar apa lagi, Bu?” Indah begitu bersemangat menanti ilmu-ilmu yang pastinya akan sangat bermanfaat baginya kelak. Akupun menyambut tantangan Indah dengan mengajak semua murid bermain permainan bahasa Inggris yang sangat mudah. Indahpun mengajak semua teman-temannya untuk segera berdiri, dan menggerakkan tubuh mereka melalui permainan dan lagu“ UP and DOWN and SHAKE, shake, shake “ . Pada awalnya, teman-teman Indah terlihat malu-malu untu melakukannya. Tapi melihat Indah yang lincah dan gesit mengikuti gerakanku, mereka seperti terhipnotis untuk melakukan hal serupa. Dengan serta merta Indah memberikan komando layaknya seorang polisi wanita kepada teman-temannya untuk bersiap-siap belajar bahasa Inggris. “ One, two, three, go!!!” Alhamdulillah, dengan komando yang Indah berikan beserta arahan-arahan dariku, semua murid bisa melakukan permainan “Up and Down” tersebut dalam 2 arahan, formasi pertama dan formasi terbalik sehingga membuat suasana belajar menjadi riang gembira. Belajar menjadi suatu hal yang sangat menggembirakan bagi mereka terlihat dari senyuman, gerakan dan ucapan bahasa Inggris yang sangat lucu, terlontar dari mulut Indah dan teman-temannya.

Indah memang seorang anak yang menyukai pelajaran bahasa Inggris, tak terkecuali teman-temannya. Mereka begitu antusias jika belajar. Tidak pernah sedikitpun mereka bercanda dan mengobrol sana-sini ketika guru menjelaskan sebuah materi kepada mereka. Indah dan teman-temannya memperhatikan dengan seksama penjelasan yang diberikan oleh guru mereka sehingga mereka dapat dengan mudah melakukan tugas-tugas yang diberikan. Ketika jam belajar selesai, Indah selalu menanyakan untuk diberikan tugas berupa pekerjaan rumah olehku. Sebagai guru bijak, aku tidak akan menghalagi niat seorang anak untuk belajar walaupun di tengah kondisi yang kurang begitu menguntungkan. Tapi, sebelumnya, aku bertanya padanya, “ Indah tidak capek kalau diberikan PR?” Nanti tidurnya kurang, nak.” Indah menjawab, “ Tidak kok, bu.” Aku pasti sempat mengerjakannya. Aku pasti bisa, harus bisa. “ Aku mau belajar banyak , bu soalnya aku ingin menjadi seorang polisi wanita,” katanya sambil menengadahkan kedua tangannya keharibaan Illahi. ” Amin! “ bersama teman-temannya, akupun mengamini doa Indah.

Sebelum berpamitan pulang, Indah kembali memimpin teman-temannya untuk berdoa dan mengucapkan salam ke dalam bahasa Inggris. Dengan tegas dan lugas dia berkata, “ Ok, friends, let’s pray together. Pray start!” Kemudian secara bersama-sama mereka membaca surah Al-Ashar, surah yang menjadi penutup aktifitas pembelajaran. Setelah selesai, Indah kembali menutup perjumpaan dengan berkata, “ Say salam !” Teman-temanpun berteriak mengucapkan “ Assalamualaikum wr.wb” kepadaku dan guru-guru lain kemudian berpamitan dengan sopan sambil mencium tanganku dan rekan-rekan guru yang berjumlah 4 orang. Setelah menyalamiku dan teman-temanku, mereka berlari menuju rumah mereka masing-masing. Indah menjadi bocah terakhir yang menyapaku dengan tantangan belajar selanjutnya, “ Bu, besok, belajar lagi ya.” Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepalaku seraya mengelus rambutnya, “ Ya, Indah sayang. Hati-hati di jalan ya, nak!” kataku sambil melambaikan tangan padanya. Indah pun berlari kencang menyusul teman-temannya.

Indah… namamu memang Indah, seindah semangat belajarmu yang menyala-nyala. Keinginan hatimu yang mengatakan “ Aku harus bisa “ menjadi contoh bagi anak-anak lain untuk bisa berbuat lebih dari yang kamu lakukan. Mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan cita-citamu yang begitu mulia. Amin, Yaa Robbal Alamin.”

SELESAI

Senin, 12 September 2011

Apa sih tugas Kepsek itu?

Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus.Pembentukan profesi guru dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan maupun program dalam jabatan. (Kuntoro Mangkusubroto: 2001)

Sejalan dengan pengertian di atas, Suharsimi Arikunto(2008) dalam bukunya Evalusi Program mempertegas bahwa pendidikan dimaknai sebagai satu bentuk interaksi manusia, sekaligus tindakan sosial yang dimungkinkan berlaku melalui suatu jaringan hubungan-hubungan kemanusiaan yang mampu menentukan watak pendidikan dalam suatu masyarakat melalui peranan-peranan individu di dalamnya yang diterapkan melalui proses pembelajaran.Intraksi dalam dunia pendidikan biasanya terjadi antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan itu sendiri seperti kepala sekolah, guru dan siswa, staf tata usaha dan semua karyawan yang membantu tegaknya ‘kerajaan’ pendidikan tersebut.

Kepala sekolah memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk mengambil keputusan berkaitan dengan kebijakan pengelolaan sekolah dibandingkan dengan guru dan staf sekolah lainnya.Kekuasaan ini dimaksudkan untuk memungkinkan sekolah berjalan dengan efektif dan efisien. Kekuasaan yang dimiliki kepala sekolah akan efektif apabila mendapat dukungan partisipasi dari berbagai pihak, terutama guru dan orangtua siswa. Seberapa besar kekuasaan kepala sekolah tergantung seberapa jauhseluruh progaram pendidikan dapat diimplementasikan. Pemberian kekuasaan secara utuh sebagaimana dalam teori manajemen berbasis sekolah tidak mungkin dilaksanakan dalam seketika, melainkan ada proses transisi dari manajemen yang dikontrol pusat ke sekolah tersebut.(Bambang Budi Wiyono: 2000)

Kekuasaan yang lebih besar yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam pengambilan keputusan perlu dilaksanakan dengan demokratis antara lain dengan:

    1. melibatkan semua fihak, khususnya guru dan orangtua siswa.
    2. membentuk tim-tim kecil di level sekolah yang diberi kewenangan untuk mengambil keputusan yang relevan dengan tugasnya
    3. menjalin kerjasama dengan organisasi di luar sekolah.

Sejalan dengan paparan tersebut, pengetahuan Kepala sekolah, guru dan seluruh warga sekolah harus menjadi pihak-pihak yang berusaha secara terus menerus menambah pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. Untuk itu, sekolah harus memiliki sistem pengembangan sumber daya manusia (SDM) lewat berbagai pelatihan, workshop ataupun supervisi klinis guna membekali guru dengan berbagai kemampuan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Pengetahuan yang penting harus dimiliki oleh seluruh guru dan staf adalah:

1. pengetahuan untuk meningkatkan kinerja sekolah,

2. memahami dan dapat melaksanakan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan quality assurance, quality control, self assessment, school review, benchmarking, SWOT, dll

Perlu diketahui bahwa, tidak semua guru yang dididik di lembaga pendidikan terlatih dengan baik dan berkualitas.Potensi sumber daya guru itu perlu terus tumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara potensial.Selain itu pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus-menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Masyarakat mempercayai, mengakui dan menyerahkan kepada guru untuk mendidik tunas-tunas muda dan membantu mengembangkan potensinya secara professional.

Aku dan Yayasan Sosial, Pendidikan dan Kemasyarakatan Abiyyu


Yayasan Abiyyu merupakan satu diantara yayasan sosial yang bergerak di bidang keagamaan dan kemasyarakatan sekaligus peduli pendidikan. Awal mula pembentukan yayasan ini adalah dalam rangka turut membantu usaha pemerintah dalam rangka meningkatkan akhlaq dan pendidikan anak bangsa. Dengan mengambil nama ABIYYU yang berarti jiwa yang mulia, diharapkan agar yayasan ini dapat membantu dan memberi kontribusi positif terhadap pembentukan mental dan perilaku anak bangsa menuju akhlak mulia. Melalui dunia pendidikan yang menjadi fokus perhatian yayasan ini, diharapkan akan ada umpan balik dari pemerintah untuk mendukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh pihak yayasan tersebut.

Sebagaimana yang telah diutarakan di atas, bahwa yang menjadi fokus perhatian dari yayasan ini adalah pendidikan. Pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk interaksi manusia, sekaligus tindakan sosial yang dimungkinkan berlaku melalui suatu jaringan hubungan-hubungan kemanusiaan yang mampu menentukan watak pendidikan dalam suatu masyarakat melalui peranan-peranan individu di dalamnya yang diterapkan melalui proses pembelajaran.

Belajar sendiri merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dalam proses pembelajaran, seorang pendidik dituntut dapat membangkitkan motivasi belajar pada diri peserta didik. Budiono (1998) mengemukakan bahwa salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik adalah dengan memberi mereka penghargaan dan hukuman yang mendidik yang dapat menantang adrenalin mereka sehingga peserta didik tersebut mampu mencetak prestasi-prestasi baru yang menggembirakan.

Terkait dengan tantangan, inovasi dan kreatifitas yang harus dilakukan oleh segenap pihak yang peduli akan pendidikan demi mencerdaskan dan menghasilkan anak bangsa yang terampil dan siap pakai, guru dan para pemerhati pendidikan di Balikpapan perlu berupaya melakukan terobosan-terobosan penting untuk memperkaya khasanah wawasan tentang cara berpikir maju seiring perkembangan IPTEK tapi tetap terkondisi dan konsisten dengan nilai-nilai IMTAQ. Kami berusaha untuk berbuat dan berpikir lebih baik dengan cara meningkatkan mutu melalui berbagai berbagai kegiatan baik secara eksternal maupun internal. Kami sadar, bahwa sebagai pemerhati pendidikan, kami sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak khususnya para pemerhati pendidikan sehingga program yang kami namakan dari yayasan ABIYYU untuk anak bangsa ini bisa berjalan dengan maksimal, khususnya yang terkait dengan perlunya pembinaan mental anak sehingga pendidikan berkarakter bangsa akan dapat diwujudkan secara maksimal.

Selasa, 16 Februari 2010

The old Grandfather and his grand son

Once upon a time, there was a very old grandfather. His eyes were almost blind. His ears were deaf and his knees shook. When he sat on the table, he could not hold the spoon strongly. He spilled soup on the table cloth. Besides, some of his soup would run back out his mouth.
His son and his son’s wife were annoyed. Finally, they made the old grandfather sat in the corner behind the stove. They gave him not enough food in the clay bowl. He sat there and looked at them sadly. He was almost crying.
One day, the old grandfather could not hold the bowl because his hands were too weak. The bowl fell to the ground and broke. The woman scolded him. However, the old grandfather did not say anything. He could only cry. Then, they bought him a wooden bowl and made him eat from it.
Once, the husband and wife were sitting in the dining room. Their four-year-old son, put together some pieces of wood on the floor. His father asked him what he was doing.
The little child said that he was making a bowl for his mother and father to eat from where he became an adult. They began to cry. They brought the old grandfather to the table immediately. Since then, they always let him eat there. If he spilled a little, they did not say anything.

Senin, 09 November 2009

KEPALA SEKOLAH, ANTARA HARAPAN DAN CITA-CITA


Semua aktifitas yang berisi inspirasi, obsesi, inovasi maupun cita-cita, jika diawali dengan basmallah sebelum memulainya, maka Insya Allah semua hal yang kita lakukan akan senantiasa mendapat barokah dan keselamatan dunia dan akhirat oleh Allah SWT. Ini adalah sebuah cita-cita yang mungkin menjadi target akhir dari sebuah pencarian jati diri yang dialami oleh sebagian besar guru PNS di seluruh Indonesia. Tak terkecuali para wanita, kesetaraan gender, menjadi sebuah pintu gerbang dan angin segar bagi mereka yang memiliki obsesi untuk menjadi ‘presiden’ di dunia pendidikan.
Seperti halnya penulis, Obsesi untuk menjadi kepala sekolah memang lahir dari sebuah impian kecil berisi cita-cita untuk bisa mengaktualisasikan diri secara intelektual yang dibarengi dengan kreativitas yang inovatif serta membangun energi dan emosi positif, sehingga nantinya ia akan mampu memimpin dirinya sendiri dan orang lain.
Pembaca yang budiman, jabatan kepala sekolah adalah sebuah amanah yang diberikan Allah SWT kepada hambaNya, agar ia mampu memimpin bawahan dengan dengan hatinya bukan dengan kekuasaannya. Dia akan memegang tangan bawahannya sambil berjalan untuk menuntun, menunjukkan jalan orang yang dibimbing, kemudian dilatih, dididik, diajari supaya kelak dapat mengerjakan segala sesuatunya secara mandiri. Dia juga akan bekerja dengan bukti dan berjanji dengan hati.
Jika saya sebagai Kepala Sekolah, saya akan tetap melakukan tugas saya sebagai seorang guru bahasa Inggris, walaupun dengan beban mengajar yang waktunya lebih sedikit dibanding pada saat menjadi guru. Karena saya yakin, bahwa kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin para pendidik dan tenaga kependidikan di sebuah sekolah atau institusi pendidikan. Saya bertekad akan tetap menunjukkan eksistensi diri sebagai guru dan penerus jejak Ki Hajar Dewantara, yang akan terus menabur benih kebaikan dengan cara mentransfer ilmunya kepada peserta didik, walaupun hanya 2 jam per pekan atau 8 jam perbulan ditambah dengan tugas-tugas lain untuk mengelola pendidikan di sekolah yang akan saya pimpin, secara jujur dan sehat. Insya Allah!
Eksistensi diri memang harus dibuktikan dengan sikap konsisten bahwa saya adalah tetap seorang guru sampai kapanpun, walaupun pemerintah memberikan saya amanah sebagai kepsek yang mungkin terkadang waktu untuk mengajar sangat terbatas, dikarenakan kesibukan saya mengatasi berbagai permasalahan sekolah yang muncul silih berganti. Tapi, kalau dari awal kita sudah mempunyai komitmen dan tekad yang kuat bahwa kita adalah guru yang kehadirannya sangat dinanti-nantikan oleh para peserta didik di dalam kelas, maka hal yang akan muncul adalah perasaan betapa indahnya jika kita masih bisa bermanfaat bagi siswa. Selain untuk menambah keakraban dan kehangatan yang terjalin antara kepala sekolah dan peserta didik, tentunya mereka juga pasti akan menilai bahwa kepsek mereka adalah sosok yang mumpuni walaupun di tengah aktifitasnya yang padat sebagai seorang pemimpin.
Pembaca yang budiman, dibalik, komitmen dan tekad pasti tersembunyi sebuah masalah yang merupakan hiasan sekaligus bukti kesabaran manusia dalam menyelesaikan suatu hal, dan pasti akan memperindah jalan mereka menuju surgaNya. Dan saya yakin, masyarakat biasa, pejabat, presiden, guru maupun kepala sekolah sama-sama mempunyai masalah dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Untuk itulah kepsek memerlukan strategi khusus agar masalah tersebut dapat diselesaikan secara proporsional melalui empat acuan dasar, yaitu “Honest, Forward looking, Inspiring and Competence.”(Forst and Forst : 2001). Honest atau Jujur bermakna bahwa saya harus mengakui keterbatasan yang saya miliki dan saya perlu orang lain dalam hal ini para guru dan staf untuk membantu saya menyelesaikan beberapa ‘perkara’ dalam dunia pendidikan. Misalnya, jika saya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, kemudian ada tamu dari luar negeri berkunjung ke sekolah saya, maka saya akan meminta dan mendatangi dengan hormat guru yang kompeten tersebut, bukan memanggil melalui ajudan saya. Setelah guru itu membantu saya melayani tamu, maka pantaslah jika saya beri dia insentif khusus hasil dari kerja kerasnya. Kejujuran dan transparansi dari pemberian insentif seperti ini patut menjadi budaya yang harus dilestarikan secara jujur. Kemudian forward looking atau cara pandang yang lebih maju. Hal ini bermakna bahwa saya harus berpikir laksana seorang ‘misionaris’ yang akan membawa tongkat berisi sebuah misi penting bersama dengan para pendidik dan tenaga kependidikan untuk melihat permasalahan dari sudut pandang ke depan, mencari lebih banyak sisi manfaat daripada mudhorat serta tidak tertinggal jauh ke belakang karena mengungkit sebuah hal di masa lalu yang sekiranya tidak layak untuk didiskusikan apalagi untuk ‘dikonsumsi’. Misalnya ‘kesalahan’ bawahan yang dimasa lalu tidak harus selalu diungkit dalam rapat mingguan hingga semua guru dan staf jadi tahu dan takut untuk berbuat sesuatu yang inspiratif akibat terhalang oleh pemimpin yang merasa bahwa ini adalah sebuah ‘kesalahan’ karena ide dan konsep dari berbagai faktor yang tidak sepaham dan lain sebagainya. Untuk itu perlu adanya penyatuan persepsi antara kepsek, guru, dan staf yang mengarah pada kemajuan sekolah di masa yang akan datang.
Selain itu, seperti halnya Mario Teguh sang Inspiring man yang terkenal dengan Golden Ways nya, saya juga harus bisa menjadi tokoh inspirasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah saya, bukan menjadi sarang ‘emosi’ mereka dikarenakan karakter saya yang tidak mau mengalah karena lebih berkuasa. Saya harus bisa membuat mereka nyaman tanpa diliputi perasaan tertekan selama berada di lingkungan kerja, menumbuhkan inspirasi dan inovasi mereka untuk maju berpegangan tangan membangun sekolah dengan nilai moral yang tinggi dan peradaban baru yang lebih positif. Leadership is attracting people to a cause and inspiring them to work to their potential in support of that cause.(William N. Yeomans)
Yang terakhir, yaitu competence atau kompetensi, maksudnya bahwa saya harus kompeten dalam melihat sebuah masalah, baik masalah yang datang dari guru, siswa maupun tenaga kependidikan lainnya. Kompetensi dibuktikan melalui sebuah pendekatan persuasif menggunakan model “Dialektis Dialogis” atas dasar musyawarah untuk kepentingan bersama bukan musyawarah untuk kepentingan pribadi yang disuka. Acuan kompetensi ini akan saya jadikan tirai untuk menutup rapat-rapat sebuah anggapan bahwa “Siapa yang lebih menguntungkan saya, maka dia yang akan saya orbitkan.” Sehingga kenyataan yang ada sekarang adalah faktor like and dislike itulah yang terus merajalela. Mudah-mudahan dengan kompetensi yang saya miliki saya mampu bersikap profesional untuk memilih wakil-wakil saya yang menjunjung tinggi arti sebuah kompetensi sehat secara lahir dan batin dibarengi dengan jiwa profesionalisme.
Hal-hal tersebut di atas memang layak untuk dijadikan fondasi awal bagi seorang kepala sekolah. Namun, sebagai pelengkap fondasi tersebut, saya memandang perlu untuk menjadikan acuan semua perkataan dahsyat nan hebat Rasulullah Muhammad SAW tentang figur pemimpin yang sebenarnya. Kepala sekolah akan layak dan pantas dikatakan sebagai seorang pemimpin jika :
1. Rasulullah saw certified that all leaders should have commitment to struggle his people. He should care of his people’s trouble and their necessaries. (the story of finding poor people in the middle of night). Rasulullah menegaskan bahwa semua pemimpin harus punya komitmen untuk memperjuangkan bawahannya. Dia harus peduli dengan masalah dan kebutuhan seluruh rakyatnya. Insya Allah, jika saya sebagai kepala sekolah, saya berusaha mengakomodir semua keperluan guru seperti insentif mengoreksi ulangan harian, tugas serta penobatan ‘Teacher and Student of the year’ atas dedikasi dan kerja keras nya selama di berada di sekolah. Sementara jika terdapat masalah antara guru dan saya atau guru dengan guru, saya berusaha untuk menyelesaikan masalah itu secepat mungkin hingga tidak berlarut-larut.
2. A good leader should be acceptable by his people. “The better leader is a person whom you love and love you much, who pray you much and you also pray for them. (Hr. Muslim) Pemimpin yang baik harus bisa diterima kehadirannya oleh para bawahan. Karena pemimpin yang baik adalah orang yang kamu cintai dan sangat mencintaimu, yang selalu berdoa untukmu seperti kamu juga yang selalu berdoa untuknya. Untuk mengimplementasikan hal ini, maka saya memandang perlu untuk menyatukan hati dan bersama-sama berdoa jika ada salah satu guru kami tertimpa musibah atau kehilangan salah satu anggota keluarganya, saya akan mengajak para guru dan murid untuk berdoa bersama di rumah guru tersebut jika kebetulan satu domisili dengan keberadaan sekolah serta untuk menguatkan hati mereka bahwa kita adalah bersaudara.
3. A leader should be ready when people critized him, and need not to be an arrogant. So those who did not want be critized by others, the better place for him is in the hell. (Pemimpin yang baik harus siap jika mendapat kritik pedas dari para bawahan dan tidak perlu menjadi sombong karenanya. Karena orang yang tidak mau di kritik, tempat yang paling pantas untuknya adalah neraka). Jika saya sebagai kepala sekolah, Insya Allah, saya siap untuk di kritisi oleh para bawahan saya atas kesalahan dan ketidaknyamanan mereka selama saya memimpin. Saya juga berusaha untuk menerima segala jenis masukan dan himbauan agar saya bisa memimpin mereka dengan lebih baik lagi.
4. A leader should be honest, instruction, model, brilliant. (Seorang pemimpin harus jujur, amanah, teladan, dan cerdas). Semua yang diajarkan Nabi Muhammad SAW pasti akan membawa keselamatan dunia dan akhirat. Dan ini harus menjadi motivasi buat saya jika terpilih menjadi kepala sekolah nanti untuk bisa mengikuti dan mencontoh apa yang beliau lakukan selama menjadi seorang pemimpin. Saya harus berusaha menjadi sosok yang jujur bekerja bukan karena ada kontrol dan sidak dari atasan saya yaitu Walikota dan Kadisdik tapi murni karena pengawasan Allah SWT. Hal yang paling riskan dan selalu menggoyangkan hati kita adalah bagaimana mengelola keuangan sekolah secara sehat, jujur dan transparan dengan melibatkan semua warga sekolah. Insya Allah, dalam mengelola keuangan tersebut, saya harus bersikap bijak, proporsional dan profesional untuk memberlakukan keadilan dan pemerataan bagi seluruh warga sekolah. Amin. Saya juga akan menjaga amanah yang diberikan Allah SWT melalui pemerintah kota Balikpapan untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Selain itu saya juga berusaha untuk menjadi teladan bagi para bawahan saya. Misalnya untuk hadir ke sekolah tepat waktu, meminta ijin dengan bawahan jika ada keperluan, disiplin dalam bekerja dan bersikap ramah sekalipun dengan orang yang tidak suka dengan saya. Saya juga harus menampilkan nilai cerdas secara lahir dan batin dengan melakukan “muhasabah bulanan”atau introspeksi diri dan para bawahan agar tidak ada dendam diantara kita. Muhasabah bulanan ini akan diisi oleh seorang da’i yang bisa menuntun kita semua dalam melakukan aktifitas hidup. Sedangkan secara lahir, saya akan mengajak para guru untuk membudayakan menulis karya ilmiah dan pelatihan pengajaran inovatif berbasis multimedia secara perlahan namun pasti. Dan insya Allah akan saya agendakan selama 2 kali perbulan di bawah bimbingan nara sumber yang berpengalaman. Semua yang berkaitan dengan peningkatan mutu guru untuk menjadi cerdas secara lahir dan bathin akan menjadi agenda rutin yang harus tertata rapi sekaligus motivasi buat saya dan para bawahan saya untuk menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari.
Pembaca yang budiman, harapan dan cita-cita yang saya kemukan di atas, merupakan sebuah paradigma baru yang ingin saya wudkan ketika saya mendapat amanah menjadi seorang kepala sekolah. Tapi tentu saja apa yang menjadi harapan belum tentu sama kenyataan yang menjadi tujuan. Tapi saya yakin, jika saya konsisten dan komitmen dengan bahasa yang saya gunakan pada bagian pendahuluan yaitu, bekerja dengan bukti dan berjanji dengan hati serta bekerja semata-mata karena Allah, maka saya yakin Allah SWT akan membimbing saya melakukan aktifitas kepemimpinan di arah yang benar. Dan mungkin kalimat bermakna di bawah ini bisa menjadi gairah berjuang untuk bertahan hidup dengan penuh barokah.
To the question of your life you are the answer,
and to the problems of your life you are the solution. ~Joe Cordare
Kamu adalah jawaban atas sebuah pertanyaan dan solusi atas sebuah masalah.

Wallahu a’lam bisshowab.

Selasa, 06 Oktober 2009

My Students and I


My class , XI Social 1 has a special characteristic than the other class. All students there, are really care of me especially about something that I've never thought that it is really important in my life. Especially when my my birthday came, I really surprised when they gave me a little party and a delicious cake, ehm... yummy! But the one that I really loved them is their caring to me, not about the cake. Although sometimes they always make me dissapointed because they reluctant and neglected to study hard, forgot doing homework, and many else. However, I still can not angry to them. I know that it is hard to come up my angry to them due to their kindness to me. One thing that I want you all to do, my soc 1, please set up your future from now on. I know you can make it if you try. Insya Allah!


Love,



Ms. Dayang

Selasa, 08 September 2009